Sepenggal kisah Ali bin Abi Thalib ra

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu

Nama aslinya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib (Syaibah al Hamd) bin Hasyim bin Abd Manaf bin Qushay bin Kilab bin Luay bin Ghalib bin Fahr bin Malik bin An Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nazar bin Ma’d bin Adnan (lih. Ath Thabaqat Al Kubra 3/19), dia adalah anak dari paman Rasulullah saw. dan nasabnya bertemu di kakek pertama, Abdul Muthalib bin Hasyim. Kunyah (julukannya) adalah Abu Hasan, yang dinisbahkan pada anak sulungnya, Hasan. Julukannya juga adalah Abu Turab, julukan ini adalah pemberian Rasulullah sendiri. Lalu Abul Qasim Hasyimi dan Abu As sabthin juga julukan Ali.

Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa ia dilahirkan 10 tahun sebelum kenabian Muhammad (lih. Sirah Nabawiyah 1/262).

Beliau adalah laki-laki berkulit sawo matang, bola mata beliau besar dan agak kemerah-merahan. Untuk ukuran orang Arab, beliau termasuk pendek, tidak tinggi dan berjanggut lebat. Dada dan kedua pundaknya putih, berwajah tampan, memiliki gigi yang rapi, dan ringan langkahnya (ath Thabaqat al Kubra, 3: 25)

Hubungan Ali dengan Rasulullah begitu dekat, karena sejak kecil ia berkawan dengan Rasulullah, di samping karena mereka berdua adalah sepupu. Pernah ada kisah menarik yang dikisahkan Sa’ad bin Abi Waqash ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 4416 dan Muslim no. 2404).

Sebagaimana kita ketahui, Ali bin Abi Thalib merupakan Khalifah keempat yg meneruskan jejak pemerintahan Islam. Dia terkenal sebagai sosok yang cerdas dan mendapat gelar sebagai ‘gerbang ilmu’. Selain itu, keadilan Ali sebagai seorang Khalifah juga tidak kalah dengan keadilan para khalifah sebelumnya. Bahkan, dia pun mau menaati putusan hakim yang diangkatnya sendiri.
Pada suatu waktu, Ali mengenali sebuah baju zirah yang dibawa oleh seorang Nasrani. Ali yakin betul baju itu adalah miliknya yang telah lama hilang. Sehingga, Ali kemudian mencoba meminta baju zirah itu kepada si Nasrani. Tetapi, si Nasrani itu tidak mau memberikan baju zirah tersebut dan berkukuh bahwa baju itu miliknya. Karena tidak menemukan titik temu, maka Ali mengajak menyelesaikan masalah itu di hadapan hakim.
Ketika sudah berada di hadapan hakim, yang saat itu dijabat oleh Syarah, Ali menjelaskan permasalahan yang terjadi. Kemudian, hakim itu bertanya kepada si Nasrani, “Apa pembelaanmu terhadap apa yang dikatakan oleh Amirul Mukminin?”
“Baju zirah ini milikku. Dia telah menuduhku. Seharusnya dia tidak berhak melakukan hal itu,” ujar si Nasrani.
Kemudian, hakim itu kembali bertanya kepada Ali, “Apakah kau punya bukti bahwa itu adalah baju zirahmu?”
Ali pun menjawab, “Ya, kau benar. Aku tidak punya bukti kuat.”
Sang hakim kemudian bertanya, “Apakah kau punya saksi yang bisa menguatkan tuduhanmu?” Ali pun berencana mengajukan putra, Hasan, untuk menjadi saksi.
“Dia tidak dapat menjadi saksi bagimu,” ucap sang hakim.
Ali pun berusaha mendebat. “Bukankah kau Ingat sabda Rasulullah melalui Umar bahwa Hasan dan Husein adalah dua pemimpin ahli surga?” kata dia.
“Tetap saja dia tidak bisa bersaksi kepadamu,” jawab sang hakim.

Hakim kemudian memutuskan baju zirah itu adalah milik si Nasrani. Mendengar putusan itu, si Nasrani gembira dan segera mengambil baju zirah itu untuk dibawanya pulang. Belum jauh meninggalkan pengadilan, si Nasrani itu kemudian kembali lagi. “Aku bersaksi bahwa hukum seperti ini adalah hukum para nabi. Amirul Mukminin membawaku ke pengadilan yang hakimnya diangkatnya sendiri, tetapi ternyata keputusan yang diambil hakimnya merupakan keputusan yang justru memberatkan Amirul Mukminin. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya. Hai Amirul Mukminin, baju zirah ini, demi Allah, adalah baju zirahmu. Aku telah mengambil beberapa barang dari kudamu ketika engkau pergi ke Shiffin,” kata si Nasrani yang telah masuk Islam.
“Kau telah memeluk Islam. Baju zirah ini untukmu,” kata Ali.

Pada Masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Umat yang dipimpinnya tidak sama dengan umat pd masa kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Masa-masa itu terlampau banyak fitnah dan ujian yang dihadapinya. Ia syahid, meninggal karena terbunuh pada usia 64 tahun.

Wallahu a’lam

Oleh : Syafiqul Lathief

About salimfi

Undergraduate Student of Economics Universitas Gadjah Mada

Posted on 19/01/2014, in Islami and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: