Ekonomi Islam sebagai Pencerah Sistem

Ekonomi Islam sebagai Pencerah Sistem

            Ekonomi merupakan suatu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari bagi setiap manusia di dunia. Sebagai makhluk sosial, seorang manusia membutuhkan medium dalam berinteraksi dengan manusia yang lain. Salah satu medium interaksinya adalah ekonomi. Medium ini mengantarkan sesama manusia untuk saling berinteraksi dalam hal yang menyangkut dengan harta. Dengan harta, manusia mampu memenuhi beberapa keinginannya yang pada dasarnya memang bersifat tak terbatas.

Harta dalam konteks Islam, bisa disebut bagian dari rezeki. Berbeda dengan harta yang mungkin hanya berkutat dengan uang, properti, tanah, saham, ataupaun fasilitas-fasilitas lainnya, rezeki memiliki makna dan pengertian yang lebih luas. Kesehatan dianggap memiliki bagian sebagai modal utama sebagai sarana untuk menjemput rezeki. Dan yang paling wajib diingat adalah Allah SWT akan memberikan rezeki kepada seluruh makluk ciptaan Nya, sebagaimana Allah berfirman yang artinya:

Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. (Q.S. Saba’ : 24)

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa pemberi rezeki adalah Allah, jadi sebagai makhluk ciptaan Nya manusia tidak perlu risau perihal rezeki karena setiap makhluk sudah disediakan bagian rezeki masing-masing, tinggal seberapa besar usaha manusia tersebut untuk menjemput rezekinya. Jadi oleh sebab itulah tak ada manusia yang tak mendapatkan rezeki ataupaun harta, karena semua makhluk telah dijamin hartanya oleh Allah.

Dalam cara menjemput rezeki tentunya manusia harus memiliki pedoman sesuai yang valid, aman, dan terpercaya. Dalam pedoman tersebut tentu memiliki pandangan  pada keadilan dan kesejahteraan. Pembuat pedoman tersebut tak lain adalah Sang Pemberi Rezeki yaitu Allah. Pedoman yang valid, aman, dan terpercaya yang dibuat olehNya tentu saja Al Qur’an yang telah diamanahkan kepada Rasulullah SAW  agar mengajarkan isinya bagi umat yang terbaik, Umat Islam dan juga Al Hadist, perkataan, sikap, dan juga perbuatan Rasulullah SAW.

Jika Ekonomi perbedoman bukan pada aturan syariat, tentu saja kebobrokan moral terjadi di sistem yang telah dibentuk ekonomi tersebut. Banyak contoh kasus yang telah terjadi utnuk sistem ekonomi non syariat seperti ekonomi liberal yang dianggap terlalu mementingkan dan membuat orang kaya semakin kaya sedangkan yang miskin tetap miski, hal ini juga tak jauh beda dengan konsep dari ekonomi sosialis yang berpatokan bahwa semua harus dibagi rata, perlu diingat bahwa pembagian rata itu belum tentu adil. Kebobrokan moral juga terjadi dengan dipakianya sistem pengumpulan secara riba dalam kedua sistem tersebut. Padahal sebagia umat muslim, diharamkan oleh Allah SWT untuk melakukan riba. Sebagaiman Firma Nya dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 275 tentang Hukum Riba.

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(Q.S. Al Baqoroh : 275)

Ekonomi seharusnya tersistem untuk membuat kehidupan lebih adil dan sejahtera sesuai dengan aturan Sang Pemberi Rezeki, Allah SWT.  Bidang ekonomi membutuhkan pencerahan sistem. Siapapun dapat berkontribusi dalam melakukan pencerahan ini. Mahasiswa  Muslim Ekonomi sudah sepantasnya untuk ikut mengkaji bagaiman sebenarnya Ekonomi Islam, sehingga sistem dapat tercerahkan ketika kondisi dalam kegelapan layaknya Rasulullah SAW yang member pencerahan sehingga musnahlah kegelapan jahiliyah kala itu. Pencerahan mulai dilakukan dari bagiajn yang kecil. Individu lalu ke kelompok (mikro), barulah nanti masuk ke Macro Economic System, InsyaAllah.

Salim Fauzanul Ihsani

Ilmu Ekonomi UGM 2013.

Dari SEF  mari cerahkan Sistem. ^_^

Artikel ini dibuat sebagai syarat mengikuti seleksi SEF (Shariah Econimics Forum) UGM. Sekarang saya mendapat amanah sebagai staff di Departemen Kajian SEF UGM 2013/2014.

About salimfi

Undergraduate Student of Economics Universitas Gadjah Mada

Posted on 10/11/2013, in Economy. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: