Happy Ied Mubarak ^_^ (Seputar Ucapan Selamat, buat Idul Fitri)

Alhamdulillah, sebulan sudah berlalu bersama Ramadhan. Hari raya Idul Fitripun disambut secara sukacita. Bagi umat muslim di Indonesia, Idul Fitri menjadi momentum untuk melakukan perbuatan muamalah (hubungan antar sesama manusia) seperti mudik, bermaaf-maafan, dan lain sebagainya. Nah, adanya momen muamalah ini tentunya diikuti berbagai ucapan yang sering terlontar dalam rangka Hari Raya Idul Fitri. Ada beberapa ucapan yang sering dilakaukan dalam menyambut  hari kemenangan. Di Indonesia yang terkenal adalalah Minal Aidin wal Faidzin, Mohon maaf lahir batin, dan ada pula Taqabballahu Minna Waminkum.

ketupat3

Banyak umat islam  yang mengira bahwa Minal Aidin wal Faidzin berarti Mohon maaf lahir batin, padahal tidak. Kalimat ini merupakan ungkapan harapan atau doa dalam bahasa arab yang  versi lengkapnya adalah Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya Semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang). Perlu diketahui bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan mengucapkan kalimat ini karena tidak ada satupun hadist yang membahasnya, kalimat ini hanyalah ungkapan yang berbahasa arab saja namun memang sring di ucapkan ketika Idul Fitri tiba. jadi Mohon maaf lahir dan Batin mempunyai makana berbeda dengan kalimat Minal Aidin wal Faidzin

Walauppun tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bukan berarti memberikan ucapan yang semikian menjadi terlarang atau haram. Sebab umumnya para ulama mengatakan bahwa masalah ini tidak termasuk perkara ritual ubudiyah atau ibadah, sehingga tidak ada larangan untuk mengungkapkan perasaan dengan gaya bahasa kita masing-masing. Ucapan Ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin  adalah ucapan yang biasa diucapakan masyarakat jazirah arab pada saat meyambut Idul Fitri. Sedangkan di Indonesia ada tambahan Mohon maaf lahir dan Batin. Kalau versi bahasa Inggrisnya adalah Happy Ied Mubarak. Jadi masalah ucapan di hari Raya Idul fitri merupakan tradisi yang tidak dilarang oleh islam karena tidak termasuk ritual ubudiyah. Tiap-tiap daerah biasanya mempunya cara masing-masing dalam menciptakan sebuah ucapan.

Untuk ucapan  Taqabballahu Minna Waminkum yang berarti Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda, ada yang mengatakan bahwa Rasulululllah SAW pernah melaukannya dengan adanya hadits yang meriwayatkan. Salah satu diantaranya adalah :

Dari Khalid bin Ma’dan, “Aku berjumpa dengan Watsilah bin al Asqa’ pada hari ied lantas kukatakan taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban beliau, “Na’am, taqabbalallahu minna wa minka”. Watsilah lantas bercerita bahwa beliau berjumpa dengan Rasulullah pada hari ied lalu beliau mengucapkan, “taqabbalallu minna wa minka”. Jawaban Rasulullah adalah“Na’am, taqabbalallahu minna wa minka” . (HR. Al Baihaqi)

Perbedaan antara minka dan minkum adalah minka hanya untuk 1 orang, sedangkan minkum adalah bentuk jamaknya yaitu banyak orang.

Namun riwayat yang menyebutkan hal ini oleh banyak ulama tidak lepas dari kritik. Salah satunya adalah Al-Baihaqi sendiri yang mendhaifkannya. Beliau membuat satu bab khusus dalam kitabnya, As-Sunan Al-Kubra, dinamai bab itu dengan “Bab apa-apa yang diriwayatkan tentang ucapan sesama orang-orang pada hari ‘Ied: taqabbalallahu minaa wa minka.” Di dalam bab tersebut, Al-Baihaqi menyebutkan banyak hadits yang berisikan lafadz tersebut, namun beliau mendhaifkan hadits-hadits itu. Sebagai gantinya beliau menuliskan sebuah riwayat yang bukan hadits dari Rasulullah SAW, melainkan hanya riwayat yang menjelaskan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendiamkan ungkapan tersebut. Bahwa Adham maula Umar bin Abdil Aziz berkata,”Dahulu kami mengucapkan kepada Umar bin Abdil Aziz pada hari ‘Ied, “taqabbalallahu minaa wa minka, ya amiral mukminin”, maka beliau pun menjawabnya dan tidak mengingkarinya. (Lihat As-Sunan Al-Kubra, oleh Al-Baihaqi jilid 3 halaman 319).

Tapi sebagaimana kita ketahui bersama, meski sebuah hadits itu dianggap dha’if, tapi selama tidak sampai tingkat kedhaifan yang parah, masih bisa dijadikan landasan amal dalam hal-hal yang bersifat keutamaan. Maksudnya, meski dha’if tetapi tidak palsu, jadi hanya lemah periwayatannya tetapi tetap hadits juga. Dan jumhur ulama pada umumnya bisa menerima hadits dha’if asal tidak terlalu parah, paling tidak untuk sekedar menjadi penyemangat dalam keutamaan amal-amal (fadhailul a’mal).

Jika kalian diberi salam dalam bentuk apa pun maka balaslah dengan salam yang lebih baik atau jawablah dengan yang semisal ….” (Q.s. An-Nisa’:86)

Syekh As-Sa’di mengatakan, “Termasuk (kewajiban) menjawab salam adalah (memberikan jawaban) untuk semua salam yang menjadi kebiasaan di masyarakat, dan itu adalah salam yang tidak terlarang. Semuanya wajib dijawab dengan yang semisal atau yang lebih baik.” (Taisir Karimir Rahman, tafsir untuk surat An-Nisa’:86)

Demikian postingan yang saya sampaikantentang Seputar Ucapan selamat di Hari Raya Idul Fitri. Semoga bermanfaat untuk kita semua.  Tentunya setiap perbuatan yang dilandasi Ilmu akan menjadi lebih baik dari pada hanya sekadar ikut-ikutan tanpa tahu asal sebabnya.

Wallahu’alam

Referensi: eramuslim.com, konsultasisyariah.com, dan ustadzaris.com

Gambar : bp3kbamburuncingparakan.blogspot.com

About salimfi

Undergraduate Student of Economics Universitas Gadjah Mada

Posted on 07/08/2013, in Islami and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: