Puasa di mata Ekonom(i)

MENGKAJI dan menggali hikmah puasa seolah tiada habisnya. Ibarat lautan luas, hikmah puasa dapat diselami oleh setiap orang, tergantung seberapa dalam seseorang ingin menyelaminya untuk mengambil butiran-butiran mutiara yang terdapat di dalamnya.

Puasa diyakini memberi efek atau manfaat dalam setiap segi kehidupan manusia selama orang atau kumpulan orang (komunitas) melakukannya dengan benar (dengan iman dan ihtisab).

Hikmah puasa tidak hanya tertuju pada dimensi ruhaniah dalam arti hubungan manusia kepada khalikNya, namun puasa dapat berimplikasi pada kehidupan social, ekonomi dan seterusnya.

Dalam bidang ekonomi, faedah puasa sungguh akan berdampak pada aktivitas ekonomi, baik secara personal bagi pelaku ekonomi, juga secara komunal dalam bentuk stabilitas pasar. Nah, tulisan ini akan mencoba mengkaji hikmah puasa dalam membentuk spritualitas ekonomi yang akan berdampak pada nilai ekonomi itu sendiri baik secara personal maupun komunal.

ramadan-mubarok

Etos Kerja dalam Ibadah Puasa

Perintah puasa yang ditujukan kepada orang yang beriman secara tegas bertujuan untuk menjadikan orang yang bertakwa (QS.2:183), dan orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa (QS. 26:13). Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan takwa?, dan bagaimana hubungan takwa terhadap aktivitas ekonomi?.

Jika kita mengkaji secara kebahasaan (lughowiyah), bahwa penyebutan kata “takwa” dalam perintah puasa menggunakan fi’il mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan saat ini dan akan datang), karenanya, kata takwa bukanlah diartikan secara statis, namun takwa harus berorientasi dinamis (kata kerja), lebih dari itu takwa juga harus berdimensi aktual yakni berorientasi untuk saat ini dan akan datang sesuai dengan sifat kata kerja takwa(tattaqun, fi’il mudhori’).

Dalam makna esensialnya, bahwa puasa hadir dengan tujuan mendidik manusia untuk selalu menghadirkan “Tuhan” setiap dalam gerak-gerik hidupnya. Pada konteks itulah takwa menjadi “pakaian” yang selalu dibawa kemanapun oleh seorang hamba dalam beraktivitas.

Ketika takwa telah menjadi pakaian seseorang, maka takwa telah menjadi identitas dirinya, sebab manusia akan melihat pakaian yang dipakai. Adapun bentuk kehadiran Allah dalam kehidupan kita adalah dimana manusia merasakan bahwa ia selalu berada dalam pengawasanNya.

Implikasi orang yang selalu merasakan kehadiran Allah akan menjadikan setiap keputusan hidupnya selalu bersamaNya dengan mematuhi perintah dan memohon petunjuk kepada Allah.

Allah menjadi rujukan dalam setiap keputusan hidupnya. Allah tidak ditempat diakhir ketika seseorang merasa tidak lagi mampu mengatasi persoalan hidup, ditimpa masalah, terjepit utang dan seterusnya sehingga yang terkesan Allah adalah tempat mengadu yang “terakhir”, setelah melakukan berbagai usaha keduniaan.

Padahal, idealnya bahwa Allahlah tempat memohon petunjuk dan mengadukan keputusan dan persoalan hidup lebih awal dari segalanya. Setelah itu barulah kita melakukan usaha atau prosedur kemanusiaan. Jangan jadikan Allah “absen” dalam setiap keputusan hidupnya.

Betapa indahnya jika seseorang memutuskan setiap sesuatu dalam hidupnya bersama Allah, sehingga tidak ada keraguan akan merasa salah dan rugi dalam setiap keputusan hidupnya.

Petunjuk Allah kepada kita dalam dibagi dalam dua hal, pertama, seluruh perintah dan larangan Allah kepada kita melalui Al-Quran dan Sunnah yang telah dicontohkan nabi. Kedua, petunjuk yang diberikan Allah kepada hati hambaNya yang memohon petunjukNya. Memohon petunjuk atas setiap keputusan hidup kita kepada Allah berarti kita telah mengambil “energi Tuhan” dalam aktivitas hidup kita.

Spritulitas Ekonomi Dalam Ibadah Puasa

Panggilan Allah kepada orang yang beriman untuk berpuasa menunjukkan bahwa keimanan merupakan syarat mutlak orang yang dianggap mampu berpuasa. Orang yang dapat melaksanakan ibadah puasa tidak cukup hanya orang yang tunduk kepada perintah Allah (Islam), namun lebih dari itu, ibadah puasa dapat dilakukan dengan keyakinan seseorang terhadap zat yang maha ghaib yakni Allah Swt.

Karena keyakinan itulah seseorang mampu untuk tidak makan dan minum serta berhubungan seksual di siang hari, walaupun makanan, minuman dan istri yang halal dan tanpa dilihat oleh orang lain.

Dalam dimensi yang lebih luas,, bahwa keyakinan kita terhadap Allah berarti meyakini akan sifat-sifatNya. Salah satu sifanya adalah Ar-Razzaq yakni yang maha pemberi rezeki. Orang yang beriman meyakini dengan sepenuh hati bahwa rezeki yang diperolehnya berasal dari Allah.

Usaha yang kita lakukan merupakan intermediasi antara pemberi (Allah) dengan penerima (makhluk), pemberi rezeki yang sesungguhnya adalah Allah Swt. Seseorang yang mendapatkan omzet penjualan yang banyak disebabkan banyaknya konsumen yang membelinya harus diyakini sebagi rezeki dari Allah melalui “media” kerja keras dan kepercayaan konsumen kepadanya. Seorang buruh atau pekerja yang mendapatkan gaji atau upah dari orang yang mempekerjakannya harus diyakini sebagai rezeki yang berasal dari Allah melalui tangan majikan atau pimpinannya atau kas negara.

Keyakinan terhadap pemberian rezeki dari Allah akan melahirkan hamba yang tidak kenal lelah, progresif dan dinamis. Sebab, kita selalu merasa dilindungi dan diperhatikan oleh zat yang maha segala-galanya.

Orang yang berpuasa sedang berdekatan atau bersama dengan pemilik langit dan bumi dan segala isinya, yang “asetnya” tiada terbatas. Mengapa harus takut tidak mendapatkan rezeki ketika kita bersama pemilik alam semesta ini?.

Karena itulah, orang yang beriman akan selalu memilki optimisme yang sangat kuat dalam usaha atau pekerjaannya sebab meyakini zat yang memiliki langit dan bumi akan memberikannya.

Orang yang demikian tidak akan mau menyandarkan hidupnya hanya pada kekuatan sesama hamba, apakah dalam bentuk jabatan yang tinggi, pemodal dan orang yang berpengaruh, ia hanya menyandarkan hidupnya kepada zat yang maha segalanya. Dalam hal inilah puasa akan melahirkan sosok-sosok hamba yang mempunyai kreativitas dan etos kerja tiada terbatas.

Selain itu, keyakinan dan selalu menghadirkan Allah dalam setiap gerak hidupnya akan menjadikan hamba tersebut merasa terapresiasi sekaligus terawasi dalam pekerjaannya. Sebab Allah dan rasulNya akan melihat pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang beriman.

Efeknya, akuntabitas pekerjaan orang yang berpuasa tentu tidak akan diragukan lagi, kejujuran adalah bagian dari dirinya sendiri, sebab ia telah merasaa diawasi oleh yang maha pengawas, yang tidak hanya mengetahui yang zhahir dari dirinya, namun juga yang batin sekecil apapun itu. Karenanya, berpuasa akan menghasilkan pebisnis-pebisnis yang jujur dan akuntabel dalam melakukan usahanya.

Dalam dimensi sosialnya, puasa mampu mendidik manusia untuk berempati dengan sesama, dalam konteks bisnis kejujuran ditambah dengan rasa empati akan menghasilkan pedagang yang tidak akan mau melakukan kecurangan (secara prilaku, behavioral), maupun kecurangan dalam bentuk merusak pasar dengan cara memonopoli (duopoly, oligopoli) yang akan merusak struktur pasar.

Pasar yang dipenuhi orang yang jujur dan mempunyai empati yang tinggi akan menihilkan terjadinya distorsi pasar. Ia tidak rela pelaku usaha pesaingnya atau konsumennya menderita kerugian akibat perbuatan monopolinya. Dalam konteks inilah terciptakan etika bisnis yang sejati. Pasar akan berjalan secara sempurna. Sebab pasar diisi oleh orang-orang yang menjaga akuntabitas pribadi dan kepentingan bersama.

Oleh karena itu, puasa yang melatih diri kita untuk selalu merasakan kehadiran Allah bersamanya dalam setiap saat akan melahirkan pribadi yang beretos kerja dan kreativitas kerja yang tinggi, satu tarikan nafas dengan itu puasa akan membentuk komunitas yang berempati tinggi dengan sesama sehingga terciptalah kesejahteraan pribadi dan stablitas pasar secara komunal. Wallahua’lam.*****

(Mustafa Kamal Rokan : Penulis adalah Dosen Hukum Bisnis Fak. Syariah IAIN Sumatera Utara dan STIH Graha Kirana Medan )

sumber artikel => waspadamedan.com
gambar : silvervaio.wordpress.com

About salimfi

Undergraduate Student of Economics Universitas Gadjah Mada

Posted on 15/07/2013, in Islami and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: