Mengamalkan Al-Ma’tsurat??

Kemarin malam adalam keikutsertaan pertama  saya pada Liqo Kampus. Sebuah perkumpulan kecil yang bagi saya merupakan salah satu tempat dimana saya bisa men-carge iman yang fluktuatif ini. Salah satu poin yang saya soroti adalah pada saat disarankan untuk membaca secara rutin Al-Ma’tsurat. Kata Al-Ma’tsurat memang sudah tidak asing di telinga saya, namun sejak saya kenal Liqo dari kelas 1 SMA belum pernah saya mengamalkan kumpulan dzikir-dzikir tersebut. Sebetulnya saat Liqo tersebut berlangsung saya ingin bertanya secara lebih mendalam tentang Al-Ma’tsurat, namun karena waktu sudah beranjak larut dan saat itu nampak materi yang akan dibahas masih banyak maka saya putuskan untuk searching di Internet saja.

Saat di Internet saya langsung unduh Al-Ma’tsurat Sughra dan Al-Ma’tsurat Kubro tak lupa saya juga unduh file MP3 Al -Ma’tsurat Sugra. Walaupun di pasaran harga buku kecil Al-Ma’tsuat Kubra hanya 1.000-2000 rupiah, namun saya ptuskan untuk surfing di internet saja karena saya bisa mendapatkan informasi secara lebih luas.

Bagi yang ingin Unduh file

Al-Ma’tsurat Sughra disini

Al-Ma’tsurat Kubro disini

Al-Ma’tsurat MP3 disini

Dari hasil saya googling saya mendapatkan banyak sudut pandang tentang Mengamlkan kumpulan hadist karangan Syaikh Hasan Al Banna ini. Beragam sudut pandang tersbut akhirnya saya menemukan suatu artikel dari islamedia.web.id tentang Merutinkan Al-Ma’tsurat. Artikel ini saya pikir menjelaskan secara fair bolehkan mengamalkan atau merutinkan Al-Ma’tsurat terlebih lagi Artikel ini merupakan tanya-jawab. Karena ada pula pendapat yang melarang mengamalkan Al-Ma’tsurat.

Postingan artikel tersebt adalah seperti ini:

Assalamu ‘Alaikum …, sekarang banyak sekali beredar wirid Al Ma’tsurat karya Hasan Al Banna, bolehkah mengamalkannya? (085643850xxx)

Jawaban :

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi wa man Waalah, wa ba’d:
Al Ma’tsurat adalah kitab kecil berupa kumpulan doa yang disusun oleh Al Imam Hasan Al Banna Rahimahullah yang berisi doa-doa yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah. Boleh dikatakan, dalam era penerbitan modern, dibanding kitab sejenisnya, Al Ma’tsurat adalah kitab yang paling luas penyebarannya di dunia Islam dan paling banyak jumlah eksemplarnya dengan naik cetak berkali-kali.

Kitab ini, sebagaimana kitab-kitab lain secara umum, tentu tidaklah sempurna. Telah banyak pihak yang memberikan penjelasan, penelitian terhadap haditsnya, bahkan juga kritikan, hingga tahap celaan terhadapnya hingga ada yang mengatakan: tidak boleh dibaca, karena terdapat hadits yang dhaif dan palsu. Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala, oleh karena itu mengharapkan selain diriNya adalah sempurna, merupakan tindakan yang keliru dan menyalahi kodrat dan tabiat kehidupan.
Jauh sebelum Al Ma’tsurat, sudah ada kitab-kitab sejenis yang di susun para ulama; seperti Al Adzkar karya Imam An Nawawi dan Kalimatuth Thayyibah karya Imam Ibnu Taimiyah. Kedua kitab inilah yang menjadi rujukan utama Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah dalam menyusun Al Ma’tsurat sebagaimana dikatakan oleh Al ‘Allamah Asy Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah Ta’ala. Oleh karenanya, menjadi aneh ketika Al Ma’tsurat dicela karena adanya riwayat yang dhaif, namun sumber pengambilannya tidak dicela. Kita pun tidak ingin ada manusia yang lancang mencela Al Adzkar dan Kalimatuth Thayyibah, itu bukan keinginan kita bersama, ini hanya untuk menunjukkan bahwa kedengkianlah yang membuat sebagian manusia bersikap tidak adil terhadap Al Ustadz Hasan Al Banna dan Al Ma’tsurat. Jika mereka mau adil, sadar, jujur, mereka pun tidak akan temukan kitab-kitab kumpulan doa yang disusun ulama masa lalu yang tanpa hadits-hadits dhaif (bahkan kitab tafsir dan fiqih pun memuatnya). Kritik dan nasihat tetaplah ada, tetapi demi ilmu, bukan untuk menjatuhkan kehormatan penulisnya dan memancing manusia untuk membencinya, serta membuang jauh karya-karyanya.
Zaman ini, kumpulan doa yang disusun ulama masa kini, telah dibuat sebisa mungkin tanpa riwayat yang dhaif -walhamdulillah, seperti Hishnul Muslim yang disusun oleh ulama muda, Asy Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani Hafizhahullah, juga kumpulan doa karya ulama lainnya, termasuk oleh penulis-penulis lokal. Demikianlah zaman telah berubah …

Dalam Al Ma’tsurat ini, sebenarnya Al ustadz Hasan Al Banna memuat sangat banyak dan lengkap, tidak seperti yang beredar di masyarakat yang lebih dikenal dengan wazhifah sughra dan wazhifah kubra.

Di dalamnya beliau membuat lima pembahasan:

Qismul Awwal (bagian pertama), Al Ustadz Al Banna memberi judul Al Wazhiifah, yaitu berisi wirid pagi dan sore yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah. Inilah yang umumnya beredar dan manusia mengenal dan menyebutnya dengan Al Ma’tsurat. Dan, ini pula yang menjadi pembahasan kami dalam buku ini.

Qismuts Tsaani (bagian kedua), berjudul Al Wirdul Qur’aniy (wirid Al Quran), yaitu berisi wirid-wirid berasal dari ayat-ayat pilihan dari Al Quran.

Qismuts Tsaalits (bagian ketiga), berjudul Ad’iyah Al Yaum wal Lailah (doa-doa sehari-hari siang dan malam), seperti doa bangun tidur, doa berpakaian, dan lainnya.

Qismur Raabi’, (bagian keempat) berjudul Al Ad’iyah Al Ma’tsurah fi Haalat Mukhtalifah (doa-doa ma’tsur pada berbagai keadaan).

Bagian kelima, adalah Wirdul Ikhwan (wirid Al Ikhwan), yaitu wirid-wirid ma’tsur yang anjurkan untuk dibaca oleh para aktifis Al Ikhwan Al Muslimun. Di dalamnya terdapat doa rabithah, dia bukan doa ma’tsur melainkan susunan Al Ustadz Hasan Al Banna sendiri, maka jangan sampai ada yang terkecoh.

Semua inilah Al Ma’tsurat itu. Cukup banyak dan panjang, dalam kitab aslinya –khususnya penerbit Maktabah At Taufiqiyah- ada pada hal. 371 – 413, alias memakan 42 halaman dari kitab Majmu’ah Rasail. Sedangkan Al Ma’tsurat yang saat ini beredar dipasaran adalah hanya pada qismul awwal (bagian pertama) saja, yakni terdapat pada hal. 379-388 (hanya sembilan halaman, sudah mencakup wazhifah sughra dan kubra). Oleh karena itu menjadi sangat janggal jika hanya karena beberapa hadits yang dhaif pada qismul awwal (yakni bagian Al Wazhiifah), membuat bagian lainnya menjadi hina dan tidak berharga, serta dibuang jauh dari hak umat untuk mengetahuinya.

Ada pun susunan yang beliau buat, tidak berarti itu suatu yang baku, dan beliau pun tidak pernah mengatakan demikian. Siapa saja boleh membacanya dengan urutan yang tidak sama dengan Al Ma’tsurat. Hal ini perlu kami tekankan, agar tidak ada lagi tuduhan terhadap Al Ustadz Al Banna bahwa beliau sengaja membuat urutan wirid tersendiri, yang dengan itu jatuhlah vonis bid’ah terhadapnya.

Sedangkan, tentang derajat hadits yang menganjurkan wirid Al Quran dan juga beberapa dzikir dari hadits, memang ada yang dhaif, munkar, bahkan maudhu’ (palsu), sebagaimana diterangkan oleh para peneliti. Walau ada juga yang kedhaifannya masih diperselisihkan para pakar hadits. Namun, jumlahnya tidak banyak dan ulama sebelum Al Ustadz Hasan Al Banna pun ada yang melakukannya, dan kita menilainya sebagai kekhilafan yang manusiawi, atau memang dalam pandangan mereka adalah hal yang boleh menggunakan hadits-hadits dhaif untuk fadha’ilul a’mal. Sungguh berlebihan jika ada yang menganggap bahwa adanya hadits-hadits dhaif tersebut adalah kesengajaan yang dibuat oleh para penulisnya dengan niat buruk terhadap kemurnian agama.

Berikut ini adalah fatwa yang kami ambil dari Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, fatwa No. 23832, 8 Sya’ban 1423H:

السؤال
ما حكم قراءة المأثورات للشهيد حسن البنا جماعة بصوت واحد أو فرادى؟ جزاكم الله خيراً…….
الفتوى
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:
فلا بأس في قراءة كتاب المأثورات للشيخ حسن البنا وغيره من كتب الأذكار، وقد بينا ضوابط ذلك في الفتوى رقم: 8381 .
وفيها أن الذكر الجماعي بصوت واحد من البدع المحدثات.
والله أعلم.
المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه
Pertanyaan:
Apa hukum membaca Al Ma’tsurat-nya Asy Syahid Hasan Al Banna secara berjamaah dengan satu suara atau satu persatu? Jazakumullah khairan …
Fatwa:
Alhamdulillah Ash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi, amma ba’d:
Tidak apa-apa membaca kitab Al Ma’tsurat-nya Syaikh Hasan Al Banna dan lainnya yang termasuk kitab-kitab dzikir. Dan, kami telah menjelaskan dhawabith(rambu-rambu)nya pada fatwa no. 8381. Di dalamnya disebutkan bahwa dzikir jama’i dengan satu suara termasuk bid’ah. Wallahu A’lam. (Mufti: Markaz Fatwa (Pusat Fatwa), penanggung jawab: Dr. Abdullah Al Faqih)

Kumpulan doa dan dzikir tentunya bukan hanya Al Ma’tsurat, ada beberapa kitab lain semisal yang bisa kita gunakan. Yang jelas, merutinkannya bukan berarti mengkultuskannya, tidak merutinkannya bukan berarti kesalahan dan penolakan terhadapnya. Sebab, semua buku-buku dzikir yang ma’tsur dari Al Quran dan As Sunnah karya siapa pun, boleh saja kita amalkan.
Wash Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘al Aalihiwa Ashhabihi ajmain.
Wallahu A’lam

Farid Nu’man Hasan

About salimfi

Undergraduate Student of Economics Universitas Gadjah Mada

Posted on 30/10/2012, in Islami and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. Jazakallah khairan katsiran, Syukron katsiran penjelasannya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: